-* Makalah Maulid Nabi Muhammad SAW

ShoutMix chat widget

 

Sabtu, 23 Maret 2013

-* Makalah Maulid Nabi Muhammad SAW


MAKALAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Maulid Nabi Muhammad SAW
Guru Pembimbing :
Dra. Hj. Endang Khususiyah R, SH, M.PdI
Disusun Oleh :
Neli Narulita       (XI IPA-3)

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 3 JOMBANG
TAHUN PELAJARAN 2012 / 2013




KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita taufiq dan hidayah-Nya, sehingga segala aktifitas yang kita laksanakan di jalan kebenaran akan selalu membawa keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih lagi pada kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat.
Terimakasih saya ucapkan kepada guru pembimbing yang telah memberikan dukungan serta motivasi sehingga pembuatan makalah “Maulid Nabi Muhammad SAW” dapat terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
Melalui makalah ini diharapkan dapat menambah relasi dan pengetahuan tentang pengertian, sejarah, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Serta sifat-sifat Nabi Muhammad SAW yang perlu dijadikan sebagai panutan umat muslim di dunia.
Saya menyadari dalam penyusunan makalah ini masih jauh dalam kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangannya, baik dari segi tata bahasa maupun penulisan serta penyampaiannya, untuk itu saya membutuhkan kritik dan saran yang dapat membangun dan memperbaiki makalah ini sehingga bisa lebih bermanfaat.
Jombang, 20 Desember 2012


Neli Narulita



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................. ii
BAB I : PENDAHULUAN........................................................................................... 1
A.   Latar Belakang Masalah....................................................................................... 1
B.   Tujuan Kegiatan................................................................................................... 1
C.   Rumusan Masalah................................................................................................ 1
BAB II : PEMBAHASAN............................................................................................. 2
A.   Pengertian Maulid Nabi Muhammad SAW.......................................................... 2
B.   Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW............................................................... 2
C.   Pelaksanaan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW........................................ 2
D.   Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW........................................ 3
BAB III : PENUTUP..................................................................................................... 6
A.   Kesimpulan.......................................................................................................... 6
B.   Saran.................................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 7





BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan zaman dan perkembangan ilmu tekhnologi yang begitu pesat membuat generasi muda harus lebih berhati-hati dalam bertindak dan berperilaku. Globalisasi menuntut umat manusia terutama umat muslim untuk lebih selektif dalam memilah bermacam-macam kebudayaan dan adat istiadat. Untuk menanggapi hal tersebut, selayaknya sebagai seorang generasi muda yang berjiwa islami hendaknya memperkaya diri dengan berbagai ilmu pengetahuan yang islamiah dengan mengikuti jejak-jejak Rasulullah SAW. Untuk itulah, dengan pembuatan makalah ini diharapkan dapat membangkitkan semangat generasi pejuang Islam di era modern dengan membangkitkan semangat dalam berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan serta sebagai introspeksi diri sejauh mana kita telak meneladani sikap Rasulullah SAW serta sebagai tolak ukur sejauh mana kita telah mempersiapkan diri untuk kehidupan di akhirat kelak.

B. Tujuan Kegiatan
1. Mengetahui pengertian Maulid Nabi Muhammad SAW
2. Menambah ilmu pengetahuan tentang sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW
3. Mengetahui pelaksanaan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di beberapa wilayah Negara
4. Mengetahui Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

C. Rumusan Masalah
1. Apa itu Maulid Nabi Muhammad SAW?
2. Bagaimana sejarah tentang Maulid Nabi Muhammad SAW?
3. Bagaimana pelaksanaan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW?
4. Apa dan bagaimana hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW?




BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Maulid Nabi Muhammad SAW
Maulid Nabi Muhammad SAW kadang-kadang Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa arab: النبي مولد,   mawlid an-nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada hari Senin bulan Rabi’ul Awwal pada tahun Gajah tahun 53 SH (Sebelum Hijriah). Di Indonesia, Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati setiap tanggal 12 Rabiul awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara substansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
B. Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW
Perayaan Maulid Nabi diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil di Irak, pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya sendiri justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem.
C. Pelaksanaan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW
Perayaan di Indonesia, Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten.



Perayaan di Luar Negeri, Sebagian masyarakat muslim Sunni dan Syiah di dunia merayakan Maulid Nabi. Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal sedangkan muslim Syiah merayakannya pada tanggal 17 Rabiul Awal, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja'far ash-Shadiq.
Maulid dirayakan pada banyak negara dengan penduduk mayoritas Muslim di dunia, serta di negara-negara lain di mana masyarakat Muslim banyak membentuk komunitas, contohnya antara lain di India, Britania, Rusia dan Kanada. Arab Saudi adalah satu-satunya negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang tidak menjadikan Maulid sebagai hari libur resmi. Partisipasi dalam ritual perayaan hari besar Islam ini umumnya dipandang sebagai ekspresi dari rasa keimanan dan kebangkitan keberagamaan bagi para penganutnya.
D. Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
Terdapat beberapa kaum ulama yang berpaham Salafi dan Wahhabi yang tidak merayakannya karena menganggap perayaan Maulid Nabi merupakan sebuah bid'ah, yaitu kegiatan yang bukan merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW. Mereka berpendapat bahwa kaum muslim yang merayakannya keliru dalam menafsirkannya sehingga keluar dari esensi kegiatannya. Namun demikian, terdapat pula ulama yang berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi bukanlah hal bid'ah, karena merupakan pengungkapan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Ada tradisi umat Islam di banyak negara, seperti Indonesia, Malaysia, Brunai, Mesir, Yaman, Aljazair, Maroko, dan lain sebagainya, untuk senantiasa melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti Peringatan Maulid Nabi SAW, peringatan Isra' Mi'raj, peringatan Muharram, dan lain-lain. Bagaimana sebenarnya aktifitas-aktifitas itu? Secara khusus, Nabi Muhammad SAW memang tidak pernah menyuruh hal-hal demikian. Karena tidak pernah menyuruh, maka secara spesial pula, hal ini tidak bisa dikatakan "masyru'" [disyariatkan], tetapi juga tidak bisa dikatakan berlawanan dengan teologi agama. Yang perlu kita tekankan dalam memaknai aktifitas-aktifitas itu adalah "mengingat kembali hari kelahiran beliau --atau peristiwa-peristiwa penting lainnya-- dalam rangka meresapi nilai-nilai dan hikmah yang terkandung pada kejadian itu". Misalnya, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Itu bisa kita jadikan sebagai bentuk "mengingat kembali diutusnya


Muhammad SAW" sebagai Rasul. Jika dengan mengingat saja kita bisa mendapatkan semangat-semangat khusus dalam beragama, tentu ini akan mendapatkan pahala. Apalagi jika peringatan itu betul-betul dengan niat "sebagai bentuk rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW".
Dalam Shahih Bukhari diceritakan, sebuah kisah yang menyangkut tentang Tsuwaibah. Tsuwaibah adalah budak [perempuan] Abu Lahab [paman Nabi Muhammad SAW]. Tsuwaibah memberikan kabar kepada Abu Lahab tentang kelahiran Muhammad [keponakannya], tepatnya hari Senin tanggal 12 Robiul Awwal tahun Gajah. Abu Lahab bersuka cita sekali dengan kelahiran beliau. Maka, dengan kegembiraan itu, Abu Lahab membebaskan Tsuwaibah. Dalam riwayat disebutkan, bahwa setiap hari Senin, di akhirat nanti, siksa Abu Lahab akan dikurangi karena pada hari itu, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Abu Lahab turut bersuka cita. Kepastian akan hal ini tentu kita kembalikan kepada Allah SWT, yang paling berhak tentang urusan akhirat. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara seremonial sebagaimana yang kita lihat sekarang ini, dimulai oleh Imam Shalahuddin Al-Ayyubi, komandan Perang Salib yang berhasil merebut Jerusalem dari orang-orang Kristen. Akhirnya, setelah terbukti bahwa kegiatan ini mampu membawa umat Islam untuk selalu ingat kepada Nabi Muhammad SAW, menambah ketaqwaan dan keimanan, kegiatan ini pun berkembang ke seluruh wilayah-wilayah Islam, termasuk Indonesia. Kita tidak perlu merisaukan aktifitas itu. Aktifitas apapun, jika akan menambah ketaqwaan kita, perlu kita lakukan.
Tentang pendapat Ulama dan Pemerintah Arab Saudi itu, memang benar. Tetapi, jika kita ingin 100% seperti zaman Nabi Muhammad SAW, apapun yang ada di sekeliling kita, jelas tidak ada di zaman Nabi. Yang menjadi prinsip kita adalah esensi. Esensi dari suatu kegiatan itulah yang harus kita utamakan. Nabi Muhammad SAW bersabda : 'Barang siapa yang melahirkan aktifitas yang baik, maka baginya adalah pahala dan [juga mendapatkan] pahala orang yang turut melakukannya' (Muslim dll). Makna 'aktifitas yang baik' secara sederhananya adalah aktifitas yang menjadikan kita bertambah iman kepada Allah SWT dan Nabi-Nabi-Nya, termasuk Nabi Muhammad SAW, dan lain-lainnya.
Masalah Bid'ah:
Ibnu Atsir dalam kitabnya "Annihayah fi Gharibil Hadist wal-Atsar" pada bab Bid'ah dan pada pembahasan hadist Umar tentang Qiyamullail (sholat malam) Ramadhan "Sebaik-baik bid'ah adalah ini", bahwa bid'ah terbagi menjadi dua : bid'ah baik dan bid'ah sesat. Bid'ah yang bertentangan dengan perintah qur'an dan hadist disebut bid'ah sesat, sedangkan bid'ah yang sesuai dengan ketentuan umum ajaran agama dan mewujudkan tujuan dari syariah itu sendiri disebut bid'ah hasanah. Ibnu Atsir menukil sebuah hadist Rasulullah "Barang siapa merintis jalan kebaikan maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang orang yang menjalankannya dan barang siapa merintis jalan sesat maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang menjalankannya". Rasulullah juga bersabda "Ikutilah kepada teladan yang diberikan oleh dua orang sahabatku Abu Bakar dan Umar". Dalam kesempatan lain Rasulullah juga menyatakan "Setiap yang baru dalam agama adala Bid'ah". Untuk mensinkronkan dua hadist tersebut adalah dengan pemahaman bahwa setiap tindakan yang jelas bertentangan dengan ajaran agama disebut "bid'ah".


Izzuddin bin Abdussalam bahkan membuat kategori bid'ah sbb : 1) wajib seperti meletakkan dasar-dasar ilmu agama dan bahasa Arab yang belum ada pada zaman Rasulullah. Ini untuk menjaga dan melestarikan ajaran agama.seperti kodifikasi al-Qur'an misalnya. 2) Bid'ah yang sunnah seperti mendirikan madrasah di masjid, atau halaqah-halaqah kajian keagamaan dan membaca al-Qur'an di dalam masjid. 3) Bid'ah yang haram seperti melagukan al-Qur'an hingga merubah arti aslinya, 4) Bid'ah Makruh seperti menghias masjid dengan gambar-gambar 5) Bid'ah yang halal, seperti bid'ah dalam tata cara pembagian daging Qurban dan lain sebagainya.
Syatibi dalam Muwafawat mengatakan bahwa bid'ah adalah tindakan yang diklaim mempunyai maslahah namun bertentangan dengan tujuan syariah. Amalan-amalan yang tidak ada nash dalam syariah, seperti sujud syukur menurut Imam Malik, berdoa bersama-sama setelah shalat fardlu, atau seperti puasa disertai dengan tanpa bicara seharian, atau meninggalkan makanan tertentu, maka ini harus dikaji dengan pertimbangan maslahat dan mafsadah menurut agama. Manakala ia mendatangkan maslahat dan terpuji secara agama, ia pun terpuji dan boleh dilaksanakan. Sebaliknya bila ia menimbulkan mafsadah, tidak boleh dilaksanakan.(2/585)
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa bid'ah terjadi hanya dalam masalah-masalah ibadah. Namun di sini juga ada kesulitan untuk membedakan mana amalan yang masuk dalam kategori masalah ibadah dan mana yang bukan. Memang agak rumit menentukan mana bid'ah yang baik dan tidak baik dan ini sering menimbulkan percekcokan dan perselisihan antara umat Islam, bahkan saling mengkafirkan. Selayaknya kita tidak membesar-besarkan masalah seperti ini, karena kebanyakan kembalinya hanya kepada perbedaan cabang-cabang ajaran (furu'iyah). Kita diperbolehkan berbeda pendapat dalam masalah cabang agama karena ini masalah ijtihadiyah (hasil ijtihad ulama).
Sikap yang kurang terpuji dalam mensikapi masalah furu'iyah adalah menklaim dirinya dan pendapatnya yang paling benar. (M. Luthfi Thomafi)





BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Yang perlu dijadikan sebagai catatan adalah, bahwa peringatan maulid Nabi ini pada dasarnya adalah untuk mengingat dan mempelajari kembali perjuangan dan keteladanan Nabi Muhammad saw. Tujuannya tidak lain adalah agar setiap Muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna, yang tercermin di dalam kehidupan Nabi Muhammad saw.
Kehidupan Nabi Muhammad saw memberikan kita contoh-contoh yang mulia, baik sebagai seorang muslim yang lurus perilakunya dan terpercaya di antara kaumnya dan juga kerabatnya, maupun sebagai da’i (aktivis dakwah) yang menyeru kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik.
Juga sebagai kepala negara yang mengatur segala urusan dengan cerdas dan bijaksana, sebagai suami teladan dan seorang ayah yang penuh kasih sayang, sebagai panglima perang yang mahir, sebagai negarawan yang cerdas dan jujur. Jadi pada dasarnya nilai-nilai inilah yang harus digali kembali melalui peringatan maulid Nabi ini. Wallahu a’lam bishshawab.

B. Saran
Sebagai umat Islam, hendaklah kita mengikuti jejak Rasulullah saw dalam mengamalkan nilai-nilai kebajikan, untuk menjadikan kita sebagai umat muslim yang berwawasan luas dan berakhlak mulia. Yang tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan menjaga moral bangsa.


DAFTAR PUSTAKA

https://www.PesantrenVirtual/ Peringatan Maulid Nabi s.a.w. dan Bid'ah.com
https://www.Serambi Indonesia/ Pelajaran Penting dari Maulid Nabi.com
https://www.Wikipedia bahasa Indonesia/ Maulid Nabi Muhammad, ensiklopedia bebas.com


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

*~C'klik